Dibuang sayang – part 1

Hari ini,
beberapa tahun yang lalu,
kamu dimana?

Hari ini,
sepuluh tahun yang lalu,
jiwamu dimana?

Hari ini,
tahun lalu,
hatiku dimana?

Saya ingin mengejar hati saya kembali.
Hati saya yang mengejar keinginannya, entah kemana.
Hati saya yang bengal dengan segala urusan yang katanya penting,
dan semua alasan-alasannya.
Saya ingin kali ini,
natal ini,
hati saya pulang ke rumahnya,
ke saya.
Ke engkau, sang Tuan.

Tuan,
kalau boleh saya minta tolong,
bicaralah kepada hati saya,
supaya hari ini saja,
dia berhenti dan kembali,
supaya saya utuh dan tidak lagi separuh.

Ajari saya, dan hati saya,
supaya mengerti maksud dari semua jalan yang telah kami lewati.
Hutan-hutan yang kami tempuh, ranting duri yang kami tebas sepanjang jalan,
dan rumah-rumah yang kami singgahi.
Manusia-manusia, yang kami sentuh,
dan hati hati yang kami sakiti.
Supaya ada maaf disela-sela nafas kami hari ini.

Saya ingin maaf,
saya ingin dimaafkan,
saya ingin memaafkan.
tapi hati saya kadang bengal.

Hati saya menutup semua pintu maaf,
dan menyimpan maaf rapat-rapat dalam kantong berikat tali emas yang ditali mati.
Lalu maaf diam saja disana,
dan hati saya bergelut sendiri dengan pembebasannya.
Maaf saya pernah mahal sekali harganya.
Sampai hati saya jadi bebal.

Lupa,
bahwa hati manusia itu seibarat pintu kayu yang ditancap paku.
Mudah berlubang, susah ditambal.
Saya ingin hati saya ditambal,
saya ingin mencabuti lubang di hati yang saya sakiti,
menambalnya dengan kasih yang saya punya.
Mengobati dan diobati.
Saya ingin kembali jadi manusia.
Bukan robot berpembuluh darah yang tak punya hati.
Karena hatinya sudah mati,
terlalu banyak lubang disana.

Tuan,
kalau boleh saya minta tolong,
bicaralah kepada hati saya,
hari ini saja,
supaya dia berhenti dan pulang kepada saya,
saya ingin bahagia.

Saya ingin membuat orang bahagia.
Saya ingin membuat Engkau, bahagia,
susah pasti jalannya,
tapi saya coba.

Karena saya,
ingin nantinya saya bisa bertanya,
kemana hati saya hari ini?
Lalu dia menjawab dengan bahagia,
: aku disini, berdiam bersama Tuanmu. Aku, kepunyaanmu, dan Tuanmu.

Karena begitulah seharusnya,
Hatiku,
dan pribadiku,
milikMu, Tuan.

Hatiku,
Hidupku,
Kado natalku,
untukMu.

inih first attempt , 2 years ago, not mine ,,
tp pasti boleh di publish sama yang bikinnya…
ya nggak, bang ?😉 hehehe