the one that i love so much – part1

seventy five

iya , nanti 26 juni

gak kerasa ya

tiba-tiba udah sepuh aja

3 dekade an, kenal beliau

waktu kecil gw pikir ini orang galak bener
banyak ngatur-ngatur gw
banyak omong, cerewet, mengulang-ulang nasihat
bosennn

tapi ternyata, manfaatnya baru kerasa sekarang
hasil cerewetnya, value yg ditanamkan
bener-bener kepake waktu gw dah dewasa
kepake di tempat kerja, di lingkungan temen-temen
di lingkungan keluarga besar

“nggak boleh tergantung sama orang lain, bahkan sama keluarga sendiri/keluarga besar sendiri sekalipun”
“harus bisa mandiri, walau sebagai perempuan, jangan tergantung suami”
“harus berani pergi-pergi sendiri” ,,, kelas 5 SD berani naik bus semarang-yogya ,, iya sendirian :)) –> prestasi ini
“kalau pinjam harus cepet-cepet dibalikin, bahkan kasih lebihan”
“kalau sakit harus minum obat, you responsibble for your own health”
“nggak boleh nangis lama-lama” ,,, well yang ini msih susah diterapkan di kehidupan sekarang sih😀
“di sekolah harus dapet ranking”
“kalau kerja harus rajin, harus jujur”
“anak wedok harus bisa masak, beres-beres rumah, cuci baju sendiri”
“sama kakak adek harus rukun, jangan sampai konflik”

yes, she is my mom biggest sister
di jawa tengah disebut budhe
she probably the most independent woman that i know
pendidikan terakhir sekolah guru
jaman dulu namanya SGKP, di kota solo
menikah di usia 22 (if i’m not mistaken)
dengan seorang anggota TNI, pakdhe saya🙂
beda desa di klaten sana
dijodohkan oleh ponakannya si pakdhe
yang adalah kakak kelas budhe

usia 29 sudah ditinggal mati oleh suaminya
karena sakit hepatitis
padahal anaknya sudah 3
2 perempuan , dan 1 bungsu laki-laki

since then, mau gak mau harus bisa mandiri
tidak bisa bergantung pada mbah kakung dan mbah putri
sulit sungguh hidup hanya dengan uang pensiunan TNI dengan jabatan terakhir mayor
akhirnya buka toko kelontong kecil-kecilan di tengah kota yogyakarta
dibantu oleh adek-adeknya yang berjumlah 5 orang
semua wanita adeknya, termasuk ibu saya
buka kost-kostan putri untuk mahasiswa,
bikin es sirop buat dititipin di sekolah-sekolah
buka usaha jahit baju
semua dijalani tanpa berkeluh kesah

satu hal yang buat aku bangga :
budhe tidak punya niat buat nikah lagi,
walau di usia 29 beliau masih menarik
tetap langsing dan cantik walau sudah berbuntut 3
dia hanya fokus dengan tujuannya
memenuhi pesan terakhir suaminya
untuk bisa sekolahin 3 anaknya sampai perguruan tinggi

dan benar , Tuhan adil
hasil kerja kerasnya berbuah manis
anak-anaknya semua jadi sarjana
dan sudah bekerja di tempat yang “sangat baik”
bahkan 2 anak pertamanya yang putri-putri
bisa mencicipi beasiswa kuliah S2 & S3 di Canada dan Inggris
Benar-benar jadi kebanggaan budhe

bersambung ….