Keras Kepala Yang Tidak Perlu

… Kalau orang yang saya cintai sedang menghancurkan diri, apakah saya harus tinggal diam hanya karena saya tidak berhak “mengubah” dia? Atau ketika saya tahu saya telah melakukan kesalahan karena sifat dasar saya yang kurang berkenan bagi orang lain, apakah kemudian saya tidak berusaha untuk merubah diri agar jadi lebih baik?

MARISSA ANITA

“I am who I am. Don’t try to change me. Take me as I am, or watch me as I go.”
“Aku adalah aku. Jangan coba-coba mengubahku. Terima aku apa adanya. Kalau tidak ya sudah.”

Mungkin kalimat ini ada benarnya. Tapi setelah menjalani hidup sepuluh tahun terakhir, jalan fikir seperti ini perlahan berubah.

Think about it.

Kalau orang yang saya cintai sedang menghancurkan diri, apakah saya harus tinggal diam hanya karena saya tidak berhak “mengubah” dia? Atau ketika saya tahu saya telah melakukan kesalahan karena sifat dasar saya yang kurang berkenan bagi orang lain, apakah kemudian saya tidak berusaha untuk merubah diri agar jadi lebih baik?

Hidup itu proses evolusi, terus berevolusi menjadi lebih baik — baik bagi orang lain dan tentunya baik bagi kita sendiri. Biasanya proses evolusi ini akan lebih mudah ketika kita benar benar mencintai diri kita sendiri dan orang lain.

Mungkin bagi sebagian orang, ini terdengar…

View original post 100 more words